Bergerak Karena Perintah, Bukan Karena Kegelisahan

Bergerak Karena Perintah, Bukan Karena Kegelisahan

Perlahan muncul kesadaran bahwa hidup tidak seharusnya digerakkan hanya oleh ketakutan, tekanan, atau tuntutan kebutuhan dunia semata. Ada fase ketika seseorang bergerak karena gelisah mengejar hasil, takut gagal, takut tidak cukup, atau takut kehilangan kesempatan. Pikiran menjadi berat karena seluruh tenaga diarahkan hanya untuk memastikan hasil tertentu terjadi.

Namun kemudian muncul pemahaman yang lebih tenang:

bergerak adalah perintah.

Manusia diperintahkan untuk berusaha, mencari rezeki, menjaga amanah, dan menjalani kehidupan dengan baik. Karena itu pergerakan tidak lagi semata-mata lahir dari kepanikan, tetapi dari kesadaran untuk menjalankan tanggung jawab dan mencari ridha Allah.

Dalam pandangan ini, hidup terasa seperti perjalanan dari satu perintah menuju perintah berikutnya:

selesai satu amanah,

lalu bergerak menuju amanah lain,

selesai satu usaha,

lalu melanjutkan usaha berikutnya.

Gerakan hidup bukan lagi hanya mengejar hasil dunia, tetapi bagian dari penghambaan.

Saat bergerak, manusia juga menyadari bahwa dirinya mengikuti tuntunan dan naluri yang telah Allah tetapkan dalam dirinya:

keinginan untuk bekerja,

dorongan untuk berusaha,

kecenderungan untuk mencari jalan,

bahkan semangat untuk bangkit, semuanya tidak berdiri sendiri.

Di sinilah makna:

Laa hawla wala quwwata illa billah

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kalimat ini bukan hanya ucapan, tetapi kesadaran bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kekuatan mutlak atas dirinya sendiri. Seseorang mungkin memiliki keinginan untuk bergerak, tetapi kemampuan bergerak tetap terjadi karena izin Allah.

Ada orang ingin berjalan tetapi tubuhnya tidak mampu. Ada yang memiliki keinginan kuat untuk bangkit, namun fisiknya terbatas. Dari sana terlihat bahwa:

keinginan manusia ada,

tetapi terjadinya kemampuan tetap berada dalam kehendak Allah.

Karena itu manusia tidak pantas sombong terhadap geraknya. Pikiran, tenaga, kesehatan, keberanian, bahkan keinginan untuk berbuat baik pun merupakan karunia.

Kesadaran seperti ini melahirkan ketenangan:

bergerak tanpa terlalu dikuasai ketakutan,

berusaha tanpa merasa paling menentukan hasil,

dan menjalani hidup dengan rasa bergantung kepada Allah.

Akhirnya manusia memahami bahwa dirinya hanya hamba yang menjalani perintah. Ia bergerak karena diberi kemampuan untuk bergerak. Ia melangkah karena Allah mengizinkan langkah itu terjadi. Dan setiap kekuatan yang dimilikinya hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”