Kesadaran, Bayangan Pikiran, dan Kembali ke Realita
Kesadaran, Bayangan Pikiran, dan Kembali ke Realita
Saya mulai memahami bahwa manusia hidup bersama pikiran, perasaan, tubuh, dan kesadaran. Dulu ketika menghadapi sesuatu, saya lebih banyak bereaksi melalui pikiran dan emosi. Ketika ingin singgah prospek misalnya, langsung muncul berbagai bayangan:
nanti ditolak,
nanti dipermalukan,
nanti tidak direspon,
orang itu pasti begini dan begitu.
Bayangan itu terasa sangat nyata sehingga tubuh ikut tegang, langkah menjadi berat, dan akhirnya tindakan tertahan. Ide serta keinginan untuk bergerak seperti ditelan oleh bayangan yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Dari sini saya mulai memahami bahwa bayangan pikiran bukanlah realita. Bayangan hanyalah gambaran yang muncul di dalam pikiran berupa:
kekhawatiran,
harapan,
prasangka,
prediksi,
atau skenario masa depan.
Bayangan boleh ada, karena pikiran manusia memang akan terus memunculkan berbagai gambaran. Yang penting bukan menghapus bayangan, tetapi menyadari keberadaannya tanpa harus diperbudak olehnya.
Saya mulai memahami bahwa mengendalikan pikiran bukan berarti memaksa pikiran hilang, tetapi:
menyadari saat bayangan muncul,
melihatnya dengan tenang,
lalu mengarahkan respon kepada sesuatu yang lebih nyata dan lebih positif.
Ketika muncul pikiran: “Nanti ditolak,”
maka saya belajar menjawab: “Itu baru kemungkinan, belum kenyataan.” “Tugas saya adalah bergerak.”
Dengan cara ini bayangan tidak lagi menjadi penguasa langkah.
Namun saya juga memahami bahwa bayangan tidak selalu negatif. Kadang muncul bayangan yang terlalu positif sehingga membuat seseorang terlalu percaya diri. Misalnya merasa pasti berhasil, pasti closing, atau merasa semua orang akan menerima dengan baik. Jika terlalu larut dalam bayangan positif, seseorang bisa kehilangan keseimbangan dan lupa melihat kenyataan.
Maka yang dibutuhkan bukan:
tenggelam dalam bayangan negatif,
dan bukan pula larut dalam bayangan positif,
tetapi kesadaran yang realistis.
Saya juga mulai melihat bahwa kata “bayangan” memiliki makna yang mirip dalam banyak hal.
Bayangan cermin adalah pantulan objek nyata.
Bayangan cahaya adalah efek dari keberadaan benda terhadap cahaya.
Sedangkan bayangan pikiran adalah pantulan dari pengalaman, ketakutan, harapan, dan persepsi dalam batin.
Ketiganya sama-sama bukan benda inti, tetapi gambaran atau pantulan dari sesuatu. Bedanya, bayangan pikiran sangat dipengaruhi emosi dan persepsi sehingga sering terasa nyata padahal belum tentu benar.
Karena itu saya belajar membedakan:
mana realita,
mana hanya skenario dalam pikiran.
Ketika bayangan mulai terlalu kuat, saya belajar kembali kepada keadaan nyata saat ini. Misalnya dengan:
menyadari tempat berpijak,
memperhatikan napas,
merasakan tubuh,
melihat lingkungan sekitar,
atau menyentuh bagian tubuh agar kembali sadar hadir saat ini.
Tujuannya bukan sesuatu yang mistik, tetapi mengembalikan diri dari arus pikiran yang terlalu jauh menuju realita yang sedang berlangsung sekarang.
Saya mulai memahami bahwa kesadaran berarti:
hadir,
mengenali keadaan diri,
melihat pikiran tanpa langsung tenggelam di dalamnya,
lalu memilih respon dengan lebih jernih.
Hal ini mengingatkan saya pada ucapan orang tua dahulu ketika melihat anaknya marah atau berkelahi: “Sadarko nak?”
Ternyata maknanya sangat dalam. Maksudnya bukan sekadar sadar secara fisik, tetapi:
sadar apa yang sedang dilakukan,
jangan dikuasai emosi,
kembali tenang,
kembali berpikir jernih,
dan kembali melihat kenyataan.
Karena ketika seseorang dikuasai amarah, ketakutan, atau bayangan pikirannya sendiri, ia seperti kehilangan kejernihan.
Hari ini saya memahami bahwa kesadaran bukan berarti menjadi manusia tanpa pikiran, tetapi:
tidak diperbudak oleh pikiran,
tidak tenggelam dalam bayangan,
dan tidak kehilangan hubungan dengan realita.
Pada akhirnya saya belajar bahwa:
bayangan boleh muncul,
pikiran boleh berbicara,
emosi boleh hadir,
tetapi langkah hidup tetap harus berjalan dalam kesadaran, kejernihan, tindakan nyata, dan tetap berpijak pada tauhid serta tuntunan Quran dan Sunnah.
Komentar
Posting Komentar