Hidup Saat Ini: Tawakkal, Kesadaran, dan Melepaskan Beban
Hidup sering terasa berat ketika manusia ingin mengontrol semuanya, hasil, rezeki, masa depan, penilaian manusia, bahkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Lalu perlahan muncul kesadaran bahwa manusia hanya mampu menjalankan sebab sedangkan hasil berada dalam kekuasaan Allah. Allah mengatur seluruh makhluk-Nya, manusia hanya diberi kemampuan untuk berusaha, bergerak, memilih, berdoa, dan menjaga sikap. Rezeki Allah yang menentukan, kesehatan dalam izin Allah, jalan keluar datang ketika Allah membukakan jalan, manusia hanya melakukan bagian yang bisa dilakukan lalu menyerahkan sisanya kepada Allah.
Kadang malam dipenuhi kecemasan, bagaimana pembayaran besok, bagaimana jika gagal, bagaimana jika hasil tidak cukup. Padahal apa yang ditakutkan belum tentu terjadi. Maka hati belajar berkata bahwa hari ini sudah ada usaha, sudah ada langkah, sisanya diserahkan kepada Allah. Malam menjadi waktu berdoa, berdzikir, menenangkan hati, bukan memikul seluruh masa depan sekaligus. Manusia tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu malam.
Melangkah dengan tenang berarti mengakui kebutuhan yang ada, bergerak mencari sebab, menemui calon konsumen, menawarkan dagangan, bekerja dengan baik, lalu berharap dan memohon pertolongan Allah tanpa panik. Jika dimudahkan maka bersyukur, jika belum maka bersabar dan tetap berjalan. Manusia hanya mengetuk pintu sebab sedangkan Allah yang membuka hasil. Tawakkal bukan berhenti berusaha tetapi berhenti memaksa hasil.
Dulu hati sering bersandar kepada pinjaman, manusia, kepastian dunia, atau jalan cepat. Ketika jalan dunia terasa tertutup muncullah panik, takut, gelisah, seolah hidup runtuh. Namun perlahan pengalaman hidup menunjukkan bahwa Allah mampu memberi jalan dari arah yang tidak disangka. Dari situ sandaran hati mulai berpindah kepada Allah. Sebab tetap digunakan tetapi tidak lagi dijadikan tempat bergantung utama.
Hari kemarin sudah selesai bersama lelahnya, usahanya, pelajarannya, dan rezekinya. Hari esok belum datang. Yang nyata hanyalah hari ini. Masa lalu adalah pelajaran, masa depan adalah harapan, sedangkan kehidupan nyata terjadi sekarang, napas sekarang, ibadah sekarang, langkah sekarang, keluarga sekarang, kesempatan sekarang. Waktu terus berjalan dan tidak akan kembali lagi.
Karena itu kasih sayang kepada keluarga perlu dimaksimalkan saat ini, kepada anak, istri, orang tua, saudara, dan siapa saja yang Allah dekatkan. Belum tentu esok masih bertemu. Banyak momen terakhir terlihat seperti hari biasa, obrolan biasa, makan bersama, senyuman sederhana, atau pelukan singkat. Maka hadir penuh pada orang-orang terdekat adalah bentuk syukur.
Ketika mulai memahami tawakkal hati juga perlu dijaga dari kesombongan. Tidak perlu selalu nimbrung dalam setiap pembicaraan, tidak perlu haus dianggap paling sadar atau paling paham. Kadang lebih baik mendengar, fokus pada amanah yang sedang di depan, bekerja dengan tenang, berbicara seperlunya, dan menjaga hati tetap sederhana. Kesadaran sejati bukan hanya dibicarakan tetapi dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya manusia hanyalah hamba yang berjalan di bawah pengaturan Allah. Ketenangan hidup sering muncul bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena hati mulai memahami mana bagian manusia dan mana bagian Allah. Manusia belajar berusaha tanpa memaksa, berharap tanpa panik, berjalan tanpa kesombongan, dan hidup sepenuhnya pada saat ini dengan tawakkal kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar