Bergerak Mencari Rezeki, Hati Berserah kepada Allah

 Mencari rezeki dengan tawakkal dan berserah diri bukan berarti diam tanpa usaha. Justru ada langkah nyata, ada gerakan, ada pengamatan, ada komunikasi, ada keberanian singgah ke prospek. Tetapi hati perlahan belajar untuk tidak menggantungkan seluruh ketenangan kepada hasil.

Dulu mungkin saya bergerak dengan tekanan yang besar. Zikir dan selawat dilakukan sangat banyak karena hati ingin segera keluar dari kesulitan. Ada harapan besar, tetapi juga ada ketakutan besar. Akibatnya langkah di lapangan sering terasa gelisah. Pikiran sibuk memikirkan hasil, dada mudah tegang, dan bayangan tentang masa depan terus muncul.

Namun seiring waktu saya mulai memahami sesuatu. Zikir ternyata bukan sekadar alat untuk mengejar hasil, tetapi tempat kembali ketika hati mulai dipenuhi ketakutan dan bayangan.

Beberapa hari lalu misalnya, dada terasa bergetar kuat karena masalah. Pikiran mulai ramai. Lalu saya kembali berzikir dan berselawat. Perlahan getaran itu menjadi datar. Masalahnya belum tentu langsung selesai, tetapi hati tidak lagi sepenuhnya tenggelam dalam ketegangan.

Dari situ saya mulai memahami hubungan antara zikir, usaha, dan tawakkal.

Saat berjalan mencari rezeki:

saya tetap mengamati prospek,

melihat mana yang hot, warm, atau cool,

lalu bergerak seperlunya.

Tetapi sekarang ada kesadaran: bahwa kemampuan untuk melangkah pun datang dari Allah. Bisa bertemu orang, bisa singgah, bisa berbicara, bahkan bisa memiliki keberanian untuk menawarkan, semuanya terjadi dengan izin Allah.

“Laa haula wa laa quwwata illa billah.”

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Kesadaran itu membuat langkah terasa lebih ringan. Karena tugas saya hanyalah bergerak dan membuka peluang dengan cara yang baik. Sedangkan hasil akhirnya bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa saya paksa.

Zikir akhirnya menjadi penjaga hati di tengah perjalanan mencari rezeki. Ketika bayangan mulai membesar, ketika rasa takut muncul, ketika dada mulai sempit, zikir mengembalikan hati untuk mengingat bahwa saya tidak berjalan sendiri.

Lalu setelah hati lebih tenang, saya kembali bergerak di dunia nyata: melihat, mengamati, singgah, berkomunikasi, menawarkan, lalu tawakkal.

Mungkin inilah yang perlahan saya pelajari: bergerak dengan sungguh-sungguh, tetapi hati tetap berserah diri kepada Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”