Melangkah Sebelum Bayangan Membesar

Beberapa hari terakhir saya mulai menyadari satu hal kecil yang ternyata sangat berpengaruh saat bergerak di lapangan. Ternyata yang paling melelahkan bukan selalu berjalan, menawarkan, atau bertemu orang. Kadang yang paling berat justru dialog di dalam kepala sendiri.

Saat melewati seseorang yang terlihat santai, duduk sendiri, atau suasananya terasa terbuka, sering muncul dorongan cepat dalam diri: “singgah saja.” Dorongan itu muncul sangat ringan, cepat, dan sederhana. Belum ada beban apa-apa. Belum ada hitung-hitungan. Hanya melihat realita di depan mata lalu muncul keinginan untuk menyapa.

Tetapi jika momen itu lewat beberapa detik tanpa tindakan, pikiran mulai bekerja. Muncul bayangan demi bayangan. “Bagaimana kalau ditolak?” “Mungkin tidak butuh.” “Jangan-jangan mengganggu.” “Capek kalau ternyata tidak jadi.” Akhirnya langkah yang awalnya ringan mulai terasa berat. Padahal realitanya belum terjadi apa-apa.

Dari situ saya mulai memahami bahwa ada perbedaan antara melihat realita dengan melihat bayangan pikiran sendiri.

Dulu saya kira bayangan itu harus dihilangkan sepenuhnya. Ternyata tidak. Bayangan tetap muncul. Pikiran manusia memang begitu. Ia akan memunculkan kemungkinan-kemungkinan. Bedanya, sekarang saya mulai belajar untuk tidak langsung mengikuti semua bayangan itu.

Kemarin-kemarin sebenarnya saya tetap bergerak walaupun bayangan sudah muncul. Artinya saya sudah mulai bisa menyadari: “ini baru pikiran, belum tentu kenyataan.” Namun beberapa hari ini terasa ada perubahan lagi. Kadang tindakan terjadi lebih cepat sebelum bayangan berkembang panjang. Saat melihat prospek yang terasa hot atau warm, tubuh langsung melangkah dengan tenang. Singgah, senyum, menyapa dengan rendah hati, lalu mulai komunikasi sederhana.

Ternyata energi terasa jauh lebih ringan ketika bergerak sebelum pikiran membuat terlalu banyak skenario.

Saya juga mulai memahami bahwa intuisi di lapangan bukan sesuatu yang mistis. Bisa jadi itu adalah kepekaan yang terbentuk dari pengalaman berulang. Semakin sering melihat orang, membaca situasi, dan menghadapi berbagai respon, semakin cepat diri mengenali peluang. Kadang cukup melihat bahasa tubuh atau suasana seseorang, lalu muncul rasa: “ini layak disapa.”

Tetapi intuisi itu lebih mudah terasa ketika hati tidak terlalu dipenuhi ketakutan dan target berlebihan. Karena saat pikiran terlalu sibuk mengejar hasil, bayangan lebih cepat mengambil alih.

Akhirnya saya mencoba menyederhanakan proses bergerak di lapangan:

Lihat orang.

Amati situasi.

Baca apakah hot atau warm.

Singgah.

Bangun komunikasi.

Amati respon.

Tawarkan seperlunya.

Lalu tawakkal.

Bukan lagi sibuk memikirkan hasil sebelum melangkah.

Karena tugas saya hanyalah bergerak dan membuka peluang dengan cara yang baik. Sedangkan hasil akhirnya bukan wilayah yang bisa saya pastikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”