Bergerak Sedikit, Tetapi Jelas

Bergerak Sedikit, Tetapi Jelas

Saya mulai memahami bahwa banyak bergerak tidak selalu berarti banyak hasil. Kadang tubuh terus berjalan, berpindah tempat, memikirkan banyak hal sekaligus, tetapi arah di dalam diri sebenarnya pecah. Pikiran terbagi ke mana-mana, tenaga habis, dan hasil terasa sedikit.

Dulu saya pernah mengalami fase seperti itu.

Tujuan terlalu banyak. Waktu saling tumpang tindih. Pikiran memikirkan masa lalu dan masa depan sekaligus. Ada urusan lama yang belum selesai tetapi sudah membuka urusan baru lagi.

Akibatnya:

fokus pecah,

tenaga bocor,

langkah tidak penuh,

dan banyak masalah terasa menggantung.

Tubuh bergerak, tetapi batin seperti tertarik ke banyak arah secara bersamaan.

Dari situ saya mulai melihat bahwa ketenangan ternyata bukan hanya soal istirahat, tetapi soal kesatuan arah di dalam diri. Ketika tujuan terlalu banyak dalam satu waktu, pikiran mudah menjadi ramai. Satu pekerjaan belum selesai, pikiran sudah pindah ke pekerjaan lain. Satu masalah belum dibereskan, sudah memikirkan kemungkinan masalah berikutnya.

Akhirnya semua terasa menumpuk di kepala.

Saya mulai memahami bahwa bergerak sedikit tetapi dengan tujuan yang jelas sering lebih kuat dibanding bergerak ke banyak arah tanpa fokus. Ketika tujuan jelas:

langkah lebih tenang,

pengamatan lebih hidup,

tenaga lebih terjaga,

dan pikiran tidak terlalu berisik.

Saya juga mulai belajar menyelesaikan urusan yang sedang dihadapi terlebih dahulu sebelum membuka terlalu banyak beban baru. Karena ketika terlalu banyak hal dibiarkan menggantung, pikiran terus menarik perhatian ke sana-sini.

Mungkin inilah yang dulu membuat saya sering tidak hadir sepenuhnya. Tubuh berada di satu tempat, tetapi pikiran masih tertinggal di masa lalu atau sudah melompat ke masa depan.

Padahal kehidupan nyata selalu terjadi di saat ini.

Sekarang saya mulai melihat bahwa fokus bukan berarti memaksa diri menjadi sempurna, tetapi mengumpulkan perhatian kembali ke satu arah yang sedang dijalani. Ketika perhatian tidak terlalu terpecah:

gerakan menjadi lebih ringan,

keputusan lebih jernih,

dan tenaga tidak cepat habis.

Saya juga mulai memahami bahwa tidak semua harus diselesaikan sekaligus. Ada waktunya berjalan sedikit demi sedikit. Ada waktunya menyederhanakan tujuan agar langkah bisa benar-benar hidup.

Karena terkadang masalah bukan pada kurangnya kemampuan bergerak, tetapi terlalu banyak arah yang dibuka dalam waktu bersamaan.

Dan dari pengalaman itu saya belajar: lebih baik bergerak sedikit dengan kesadaran penuh, daripada bergerak terlalu banyak tetapi kehilangan arah di dalam diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Masih Belajar Mencintai, Ma… Ajari Aku Dengan Hatimu

Memahami Doa, Pengabulan, dan Tawakkal dalam Islam disertai dengan kisah nyata dan bahasa hati

Didikan Lembut yang Dianggap Lemah: Warisan Cinta dari Orang Tuaku”