Ilmu dan Amal di Dalam Gerakan
Ilmu dan Amal di Dalam Gerakan
Beberapa waktu terakhir saya mulai memahami bahwa banyak kelelahan bukan karena langkah yang terlalu berat, tetapi karena pikiran bergerak lebih jauh daripada tindakan. Tubuh berjalan di jalan yang nyata, tetapi pikiran sibuk berkeliling di dalam bayangan.
Kadang sebelum bergerak, pikiran sudah lebih dulu membuat banyak ruang:
takut ditolak,
takut dicurigai,
takut waktu habis,
gengsi,
merasa tempat itu tidak ada orang,
merasa peluang kecil,
merasa hasil akan buruk.
Padahal semua itu sering baru berupa kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Saya mulai melihat bahwa ketidakhadiran bukan hanya ketika tubuh diam, tetapi juga ketika tubuh bergerak tanpa kesadaran yang fokus. Mata melihat jalan, tetapi perhatian terseret ke dalam ruang pikiran. Akibatnya gerakan menjadi terburu-buru, pengamatan melemah, dan langkah kehilangan arah.
Dari situ saya mulai memahami bahwa bergerak harus memiliki:
tujuan,
arah gerakan,
dan batas yang jelas.
Tujuan membuat langkah tidak liar. Gerakan menjadi lebih terarah. Waktu dan tempat membantu fokus tidak menyebar ke mana-mana.
Saya juga mulai menyadari bahwa peluang sering tidak terlihat bukan karena tidak ada, tetapi karena pengamatan belum hadir sepenuhnya. Seperti sebuah kampung yang tampak sepi ketika dilewati, tetapi ternyata penuh saat waktu sholat tiba. Orang-orang sebenarnya ada, hanya belum terlihat pada waktu dan sudut pengamatan yang tepat.
Dari situ saya memahami bahwa hidup tidak cukup hanya bergerak. Harus ada pengamatan di dalam gerakan.
Berjalan sambil melihat. Melangkah sambil membaca keadaan. Hadir di dalam tindakan.
Karena ketika kesadaran hadir di dalam gerakan, langkah menjadi lebih hidup. Tubuh tidak lagi sekadar lewat, tetapi mulai menangkap pola dan kenyataan yang sebelumnya tersembunyi.
Saya juga mulai memahami bahwa pikiran sering membuat prediksi yang belum tentu benar. Seperti pertandingan bola yang dipenuhi analisis sebelum dimulai. Semua orang memperkirakan tim-tim besar akan menang, tetapi kenyataan sering berbeda. Kadang hanya satu prediksi yang benar, bahkan terkadang semuanya meleset.
Begitu juga kehidupan.
Cuaca hujan diprediksi membuat prospek sulit. Cuaca terang diperkirakan membawa peluang lebih baik. Tetapi realita tidak selalu mengikuti bayangan manusia. Kadang hujan justru membawa rezeki, dan kadang suasana ramai justru tidak menghasilkan apa-apa.
Di situlah saya mulai memahami: prediksi boleh ada, tetapi tidak boleh dipatenkan.
Manusia hanya membaca kemungkinan berdasarkan pengetahuan yang sangat terbatas. Sedangkan hasil tetap berada di dalam ilmu Allah.
Maka perlahan saya mencoba menjalani pola yang lebih sederhana:
ada tujuan,
bergerak sesuai tujuan,
lalu hasil dilepas.
Bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi memahami bahwa tugas manusia adalah bergerak dan berikhtiar, sedangkan hasil tidak sepenuhnya berada di tangan manusia.
Dan semakin saya mengamati diri, semakin terasa bahwa ilmu manusia hanyalah sedikit sekali. Seperti setetes air dibanding samudra yang luas. Apa yang saya pahami hari ini mungkin hanya sebagian kecil dari kenyataan yang sebenarnya.
Karena itu saya tidak ingin berhenti hanya pada pemikiran. Ilmu harus hidup di dalam amal.
Apa gunanya memahami fokus jika langkah masih dikuasai ketakutan? Apa gunanya memahami kehadiran jika pikiran terus tenggelam dalam bayangan?
Mungkin ilmu yang hidup adalah ketika pemahaman mulai turun menjadi cara berjalan, cara melihat, cara bersikap, dan cara menerima hasil kehidupan.
Dan mungkin di situlah perlahan saya mulai belajar: hadir di dalam gerakan, bergerak dengan sadar, dan menyerahkan hasil kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar