Melihat Kehidupan Secara Utuh
Melihat Kehidupan Secara Utuh
Beberapa bulan terakhir saya mulai menyadari bahwa banyak penderitaan ternyata bukan berasal dari kenyataan itu sendiri, tetapi dari bayangan pikiran tentang kenyataan. Pikiran sering bergerak lebih cepat daripada realita. Ia membuat prediksi, proyeksi, ketakutan, bahkan kesimpulan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.
Dulu ketika muncul rasa sesak, takut, atau khawatir tentang masa depan, saya merasa itulah diri saya sepenuhnya. Ketika memikirkan tunggakan, pekerjaan, atau kemungkinan gagal, rasanya seperti seluruh diri terkunci di dalam rasa itu. Tetapi perlahan saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Saya mulai memahami bahwa di dalam diri ada “kamar-kamar”. Ada kamar sedih, kamar takut, kamar marah, kamar semangat, kamar harapan. Pikiran dan rasa bergerak di dalam kamar-kamar itu. Kadang saya masuk ke kamar sesak, kadang masuk ke kamar tenang. Namun ternyata ada sesuatu yang lebih dalam yang menyadari semuanya sedang terjadi.
Di situlah saya mulai memahami makna penyaksi dan yang disaksikan.
Yang takut bukan kesadaran itu sendiri, tetapi kamar ketakutan yang sedang aktif. Yang sesak bukan seluruh diri, tetapi ruang pengalaman yang sedang dipenuhi tekanan. Dan ketika saya mampu berkata:
“Sekarang saya sedang berada di ruang sedih,”
berarti masih ada jarak halus antara kesadaran dan isi pikiran.
Dulu saya pernah memahami konsep ini secara teori, tetapi belum bisa memisahkan keduanya saat emosi datang. Sekarang perlahan saya mulai bisa melihat langsung ketika pikiran menarik saya ke masa depan atau tenggelam dalam bayangan tertentu.
Saya juga mulai memahami perbedaan antara proyeksi dan perencanaan.
Perencanaan adalah melihat masa depan untuk menentukan langkah nyata hari ini. Sedangkan proyeksi sering membuat pikiran tinggal di masa depan yang belum terjadi. Ketika proyeksi menguasai diri, tubuh menjadi tegang dan langkah melemah sebelum benar-benar bergerak.
Padahal pengalaman mengajarkan sesuatu yang sederhana: banyak ketakutan ternyata tidak terjadi seperti yang dibayangkan.
Seperti prediksi dalam pertandingan bola. Sebelum turnamen dimulai, orang memperkirakan negara-negara besar akan mendominasi. Secara logika masuk akal. Tetapi kenyataannya sering berbeda. Ada faktor yang tidak bisa dipastikan manusia. Kadang hanya satu prediksi yang benar, bahkan terkadang semuanya meleset.
Begitu juga kehidupan.
Cuaca hujan mungkin diprediksi membuat prospek sepi. Cuaca cerah mungkin dianggap membawa peluang lebih baik. Tetapi realita tidak selalu berjalan sesuai bayangan manusia. Kadang hujan justru membawa rezeki, dan kadang suasana terang justru sepi. Manusia hanya membaca kemungkinan, sedangkan hasil akhirnya tetap berada di luar genggaman manusia.
Dari situ saya mulai belajar: prediksi boleh muncul, tetapi tidak boleh dipatenkan.
Tugas manusia adalah merencanakan, melangkah, dan menjalankan ikhtiar. Sedangkan hasil akhirnya bukan milik manusia sepenuhnya.
Saya juga mulai menyadari bahwa proses hidup tidak bisa dilihat dari satu bagian kecil saja. Hari ini mungkin kosong. Besok mungkin gagal lagi. Tetapi jika perjalanan dilihat lebih utuh, sering ternyata ada arah naik di balik naik turunnya keadaan.
Seperti grafik yang tampak berantakan jika dilihat per titik, tetapi menunjukkan perkembangan jika dilihat dari keseluruhan perjalanan.
Mungkin hidup memang seperti itu: tidak selalu lurus, tidak selalu mudah, tetapi terus bergerak.
Dan semakin saya belajar memahami diri, semakin terasa bahwa ilmu manusia sangat sedikit. Apa yang saya pahami hari ini mungkin baru setetes kecil dibanding luasnya kenyataan yang belum terlihat. Karena itu saya tidak ingin terlalu cepat merasa sudah sampai.
Saya hanya ingin terus belajar melihat:
pikiran tanpa tenggelam di dalamnya,
rasa tanpa harus menjadi rasa itu,
masa depan tanpa kehilangan saat ini,
dan proses hidup tanpa terlalu cepat menyimpulkan segalanya.
Mungkin di situlah pelan-pelan ketenangan mulai tumbuh.
Komentar
Posting Komentar