Menarik Masa Lalu dan Masa Depan ke Saat Ini
Menarik Masa Lalu dan Masa Depan ke Saat Ini
Dulu saya sering merasa pikiran seperti tidak pernah berhenti. Kadang ia kembali ke masa lalu, mengulang kejadian yang sudah lewat. Kadang ia melompat ke masa depan, memikirkan apa yang belum terjadi. Akibatnya, saya sering merasa tidak benar-benar hadir dalam hidup saya sendiri.
Saat bekerja, pikiran bisa pergi ke hal lain.
Saat berkendara, kepala memikirkan masalah lama.
Saat sholat, pikiran justru sibuk dengan rencana dan kekhawatiran.
Hingga saya mulai menyadari sesuatu yang sederhana:
pikiran itu akan selalu bergerak.
masa lalu dan masa depan tidak bisa benar-benar dihilangkan dari kepala.
Yang bisa dilakukan bukan menghapusnya, tetapi menyadarinya.
Ketika pikiran pergi ke masa lalu, saya mulai belajar berkata dalam diri:
“ini masa lalu.”
Ketika pikiran melompat ke masa depan:
“ini masa depan.”
Lalu perlahan saya kembali lagi ke satu titik yang paling nyata:
saat ini.
Saat ini saya sedang berjalan.
Saat ini saya sedang duduk.
Saat ini saya sedang sholat.
Saat ini saya sedang berbicara.
Di titik ini, kehidupan benar-benar terjadi.
Saya mulai memahami bahwa “menarik pikiran ke sekarang” bukan berarti melawan pikiran dengan keras, tetapi:
menyadari kemana pikiran pergi,
lalu tidak ikut terseret terlalu jauh,
dan kembali lagi ke apa yang sedang dilakukan.
Seperti saat naik motor: pikiran bisa saja melayang, tetapi ketika sadar, saya kembali melihat jalan, kendaraan di depan, dan keadaan sekitar.
Seperti saat sholat: pikiran bisa pergi ke mana-mana, tetapi ketika sadar, saya pelankan bacaan, kembali memahami, dan merasakan diri sedang berdiri di hadapan Allah.
Di situ saya mulai merasakan bahwa hadir di saat ini membuat hidup lebih jelas.
Saya juga mulai memahami bahwa masa lalu adalah pelajaran, masa depan adalah arah, tetapi kehidupan hanya bisa dijalani di satu titik:
sekarang.
Karena itu, tugas saya bukan menghilangkan pikiran, tetapi:
mengenali saat ia muncul,
tidak tenggelam di dalamnya,
lalu kembali dengan tenang ke langkah yang sedang dijalani.
Perlahan saya melihat bahwa ketenangan bukan berarti tidak ada pikiran, tetapi:
tidak lagi diperbudak oleh pikiran.
Dan dari situ saya belajar satu hal sederhana: hidup menjadi lebih jernih ketika saya kembali ke saat ini, lagi dan lagi.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar